Teduh dan
sejuk, rimbun daun pohon jambu air memayungiku dari sengatan matahari. Aroma
mawar terbawa angin merebak kesegala arah, tegel warna putih bersih yang
dipadukan dengan tembok berwarna biru langit serasa makin membuat hawa sejuk makin
ketara. Rumah ini rumah sahabatku, letaknya tidak jauh dari jalan raya, agak bising
memang.
“Dwi
juga ikutan ?.”
“Iya
Bu Uban, sudah dibolehin sama Mamih
ko,” jawabku padanya, Ibu Uban itu bukan nama sebenarnya, rambutnya hitam legam
lurus terurai, tak berbeda dengan rambut Nisa. Yang beruban itu sebenarnya
suaminya, Pak Uban nama panggilannya.
“Cuman
sampai jam 9 kan acaranya?,” Bu Uban
meoleh kearah sahabatku, Nisa namanya.
“Iya
Bu…, euu… nanti kalau acaranya sudah selesai Nisa akan Saya antar pulang ke
rumah ko,” Aku memberanikan diri berjanji,
Nisa tertunduk.
“Kasih
ijin aja Bu, lagipula Nisa kan sudah gede, sudah kelas 5 SD, jangan
terlalu dilarang-larang.” Tiba-tiba suara Pak Uban terdengar, rupanya dia
sedang tiduran di sofa depan TV, gak
kelihatan.
“Ya sudah, hati-hati yaaa…,” Bu Uban menyelundupkan lembaran kertas berwarna hijau ke
tangan Nisa, Pak Uban masih asyik menukar-nukar saluran TV, Nisa tersenyum,
manis.
Aku pun
pamit pulang, Nisa ikut bersamaku, dia dalam tanggungjawabku hari ini. Nisa
menggenggam erat tangan kananku, uang ditangannya sudah berpindah ke saku rok
warna Abu yang dikenakannya, ini pertama kalinya aku melihat dia pakai baju
atasan pink itu, baru sepertinya.
“Nisa,
Dwi…, jangan lupa jam 9 harus sudah pulang yaaa.”
